Hanya pencurianlah yang masih bisa menyelamatkan kepemilikan pribadi.
(Karl Marx, Brumaire XVIII Louis Bonaparte)
I
Hegel pernah bilang bahwa semua peristiwa dan tokoh-tokoh penting dalam sejarah muncul seolah-olah dua kali. Tapi Hegel lupa menambahkan: yang pertama kali sebagai sebuah tragedi dan yang keduanya sebagai lelucon[2]. Memang manusia membuat sejarahnya sendiri, tetapi mereka tidak membuatnya tepat seperti yang mereka sukai; mereka tidak membuatnya dalam situasi-situasi yang dipilih oleh mereka sendiri, melainkan dalam situasi yang langsung dihadapi, ditentukan, dan ditransmisikan dari masa lalu[3]. Tradisi dari generasi ke generasi yang sudah lewat menjadi satu-satunya beban yang sulit untuk disingkirkan dari pundak. Ketika kita terlibat dalam upaya perubahan; dalam menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya, justru pada saat ‘revolusioner’ itu kita dengan cemas membangkitkan arwah-arwah masa lalu untuk melayani kita dan meminjam nama-nama, teriakan-teriakan, dan busana-busana untuk mementaskan cerita lama dalam sejarah yang diselubungi pelaku dan bahasa pinjaman yang tampak baru[4]. Revolusi di Perancis ini ternyata cuma pentas cerita lama dengan latar baru. Revolusi tinggallah revolusi. Sekarang arwah-arwah gentayangan dari masa lalu mewujud dalam Louis Bonaparte; presiden dari kalangan prajurit yang didampingi wakil dari golongan kapitalis negeri ini. Kemarin, berbondong-bondong pekerja dari penjuru negeri Perancis menuju ibukota memprotes undang-undang perburuhan baru yang sedang diperbaiki. Tapi jalan-jalan yang mereka lalui adalah jalan-jalan lama yang diciptakan borjuis Paris. Serikat-serikat pekerja sepertinya tiada lain penjelmaan tangan-tangan negara borjuis. Sebagian besar inteletual juga demikian. Seperti dibilang Marx ‘…kekuatan tatanan borjuis terletak pada kelas menengah[5].’ Para ahli dari universitas yang memperbaiki undang-undang pun merupakan anak kandung negara borjuis yang dididik oleh lembaga pendidikan borjuis pula. Bagi intelektual tradisional ini ‘kepentingan umum’ adalah satu-satunya pertimbangan. Tak ada kosa kata membela kaum pekerja miskin dalam kamus pertimbangan mereka. Kosa kata itu sudah dibuang jauh-jauh sejak kuliah semester pertama. Seorang dari mereka berdiri dan mengajari soal kebijaksanaan.
II
Demonstrasi di Hari Buruh harus dihardik sebagai omong kosong utopi; utopi kaum kuminis. Bukankah kalian sudah memilih wakil-wakil di DPR? Mereka yang bijaksana dari universitas ternama sedang merevisi pasal-pasal dalam undang-undang perburuhan yang akan menyejahterakan rakyat. Bukankah masuk akal bila kesejahtaraan rakyat, termasuk kaum pekerja, harus ditanggung negara dan bukannya oleh perusahaan? Bukankah undang-undang dasar kita juga menyiratkan itu? Apa salahnya dengan pasal 35 undang-undang perburuhan? Tugas kapitalis adalah menanamkan kapitalnya di negeri ini agar pertumbuhan ekonomi nasional naik. Lihatlah pengangguran bertebaran di mana-mana. Kita butuh lapangan kerja. Sudah untung mereka mau menanamkan kapitalnya di negeri kita. Seharusnya negara kita memberikan keleluasaan para pejuang ekonomi bangsa ini untuk membangun ekonomi kita yang ambruk karena krisis. Sediakan infrastruktur yang baik. Mudahkan hutang-hutang mereka. Jangan lupa kita musti mendidik penduduk negeri dengan pelajaran-pelajaran yang praktis saja untuk kepentingan di dunia kerja. Sekarang, apa yang terjadi? Orang-orang sok pahlawan itu mengorganisasi pekerja dan berdemonstrasi menentang undang-undang! Apa yang kurang dari apa yang telah dilakukan kaum pengusaha yang sudah berbaik budi membuat pabrik di sini? Bukankah dengan upah yang sekarang hidup pekerja bisa dilanjutkan? Mereka bisa makan, menyewa rumah untuk tinggal, dan menyekolahkan anak mereka sampai lulus sekolah menengah? Untuk apa juga sih minta tunjangan-tunjangan segala macam itu? Itu bukan kewajiban pengusaha. Itu kewajiban negara sesuai undang-undang dasar. Atau kalau mau jujur sebenarnya itu kewajiban pekerja sendiri yang kalau bisa ngirit tentu bisa menabung untuk tunjangan kesehatan dan sebagainya itu. Jangan sekali-kali meminta yang bukan haknya. Dholim itu namanya!
III
Aku tak habis pikir. Bijaksanawan dari universitas itu begitu bijaksananya. Dia sepertinya tidak pernah sekali pun seumur hidup tinggal dan merasakan bau apek kasur kaum pekerja. Atau berbincang dengan mantan pekerja pabrik berusia tua yang sakit paru-paru dan sedang tergeletak lemah di kamar pengapnya ditunggui oleh anak laki-laki terakhirnya yang berkaki kecil sebelah serta bermata rabun karena dikandung ketika ibunya kurang gizi. Memang tepat analisis Karl Marx, pengungsi dari Köln itu, bahwa monarki borjuis dari Louis Philippe hanya dapat disusul oleh sebuah republik borjuis, yang berarti bila satu bagian terbatas dari borjuasi memerintah atas nama raja, maka seluruh borjuasi sekarang akan memerintah atas nama rakyat. Apa yang mereka lakukan begitu penuh pembenaran: “Kami dipilih rakyat seluruhnya”. Tuntutan-tuntutan pekerja Paris adalah omong kosong utopi yang mesti diakhiri[6]. Kepentingan umum untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional lebih berharga daripada memperhatikan kesejahteraan kaum pekerja. Usahakan upah pekerja tetap tidak tinggi tapi jangan pula terlalu rendah sehingga selain bisa membuat pekerja beserta keluarganya bisa tetap hidup tapi juga tidak memberatkan kapitalis untuk menumpuk hasil rampokan yang oleh akhli ekonomi disebut keuntungan. Antrian panjang kaum miskin penjual diri sendiri untuk menjadi pekerja yang mau dibayar murah masih akan lama bertahan. Tenang saja. Kalau yang satu protes, usahakan agar secara konstitusional sah untuk dipecat dan akan dengan mudah kita mencari penggantinya.
Tuan Marx, pelarian dari Prusia itu, pernah bilang bahwa memang upah pekerja ditentukan melalui perjuangan saling bertentangan antara kapitalis dan pekerja. Kemenangan pasti ada di sisi kapitalis. Kapitalis bisa lebih lama bertahan hidup tanpa pekerja, tapi pekerja tidak bisa bertahan hidup lama tanpa kapitalis. Pekerja dibuat tergantung pada kapitalis. Tingkat upah paling rendah dan mutlak perlu adalah yang memenuhi kehidupan pekerja selama masa kerjanya saja. Selebihnya cuma sebanyak yang diperlukan untuk mendukung keluarga pekerja dan agar golongan pekerja tidak mati. Itu saja. Kapitalis akan berupaya membuat keuntungannya terus meningkat hingga jumlah nol dari depositonya tak terbayangkan oleh kaum pekerja.
Asosiasi-asosiasi kaum kapitalis adalah suatu kebiasaan dan efektif mengendalikan negara borjuis siapapun presidennya, untuk mendukung kepentingan mereka tentu saja. Sedangkan asosiasi kaum pekerja dilarang atau disulap jadi kelompok arisan yang tunduk pada kepentingan kaum kapitalis[7]. Kesadaran mereka diprogram sedemikian rupa sehingga menganggap kehidupan ini wajar adanya. Semua yang mereka tanggung adalah sesuatu yang sudah sewajarnya mereka terima. Kaum borjuis tidak hanya menguasai alat-alat produksi material. Mereka juga mengendalikan kesadaran masyarakat lewat alat-alat produksi mental. Tuan Marx, orang buangan dari Berlin itu, pernah juga bilang seperti itu bahwa gagasan-gagasan kelas penguasa di sepanjang kisah sejarah manusia merupakan gagasan penguasaan. Kelas yang menguasai kekuatan material dalam masyarakat, pada saat yang sama menguasai kekuatan intelektualnya juga. Kelas yang menguasai alat-alat produksi material pada akhirnya juga mengendalikan alat produksi mental, sehingga gagasan dari mereka yang tidak menguasai alat produksi mental tunduk padanya. Gagasan-gagasan yang berkuasa tiada lain adalah ekspresi ideal dari hubungan material yang dominan; hubungan material dominan yang dipahami sebagai gagasan; ketika hubungan yang membuat suatu kelas menjadi kelas penguasa atas yang lain, maka gagasannya merupakan gagasan dominansi[8]. Inilah dominasi ideologi kelas berkuasa. Koran-koran, acara televisi, radio, film, sekolah, dan universitas merupakan perkakas-perkakas reproduksi kesadaran tempat terjadinya upaya penyeragaman gagasan yang sejalan dengan gagasan kelas borjuis yang membuat masyarakat melihat dunia seperti kaum borjuis melihatnya. Semua yang dianggap wajar oleh borjuis menjadi wajar bagi sebagian besar orang. Upah rendah yang wajar menurut borjuis harus wajar juga menurut pekerja. Masyarakat sipil tiada lain adalah masyarakat dominasi borjuasi. Di dunia akademik, para intelektual sekadar balatentara yang dimanfaatkan seefektif mungkin menyebarkan dan melindungi gagasan dominan borjuasi. Mereka tidak memakai baju perang dan pedang selayaknya para ksatria Normandi melindungi Tuan-tuan Feodal, tetapi menggunakan teori dan konsep-konsep. Mitos-mitos disebarluaskan hingga mencapai derajat ‘fakta’. Benarkah bila kapitalis untung, maka pekerja akan merasakannya juga? Tuan Marx dari Prussia pernah mencatatkan analisisnya bahwa pekerja tidak mesti mendapat untung bila si kapitalis mendapatkannya, tetapi mereka sudah pasti rugi bila kapitalis merugi[9]. Sungguh polos pikirannya orang yang meyakini ada sayap di punggung para kapitalis. Borjuis bukan malaikat. Pemerintahan monarki borjuis telah 32 tahun mempercayai teori ini yang oleh akhli ekonomi disebut teori tetesan ke bawah. Omong kosong. Ujung dari penerapan teori ini adalah kesenjangan ekonomi yang menganga seperti jurang dan siap menelan setiap orang-orang kalah ke dasarnya yang hina.
IV
Tradisi sejarah telah melahirkan kepercayaan kaum miskin Perancis pada mukjizat seorang laki-laki bernama Napoleon yang dianggap akan mengembalikan semua kejayaan pada mereka. Muncullah di tengah-tengah kekalangkabutan suasana krisis berkepanjangan seorang laki-laki gagah yang mengaku sebagai orang pilihan itu karena ia menyandang nama Napoleon[10]. Dalam pemilu yang lalu pria ini terpilih sebagai presiden bersama wakilnya yang adalah pemimpin partai paling berkuasa pada masa kekuasaan monarki borjuis yang telah lalu sekaligus seorang kapitalis besar dari Perancis timur. Apa yang terjadi bila wakil golongan prajurit dan borjuis kapitalis bersatu-padu di tampuk kepresidenan Perancis ini? Apa yang terjadi jika senapan bersanding dengan uang di dalam satu tangan? Tampaknya ini akan dicatat sebagai suatu kekeliruan dalam buku sejarah masa depan dan dibaca dengan rasa miris oleh pemuda-pemudi masa depan yang semoga lebih peduli pada penderitaan kaum lemah.
Selain itu, kaum miskin, termasuk golongan pekerja bersama ‘serikat-serikat pekerjanya’ persis seperti, mengutip istilah Tuan Marx, orang usiran dari Köln itu, “kentang dalam sebuah karung (yang) merupakan sekarung kentang”[11]. Seandainya berjuta-juta orang ini hidup dalam keadaan yang memisahkan gaya hidup mereka dari kelas-kelas lain dan menempatkan mereka dalam oposisi dengan kelas-kelas tersebut, maka mereka itu merupakan sebuah kelas. Tapi sayang tidak. Oleh karenanya mereka tidak dapat menyatakan kepentingan-kepentingan kelas atas nama mereka sendiri baik lewat parlemen maupun lewat konvensi[12]. Yang bisa mereka lakukan hanyalah mencicipi secuil demi secuil remah-remah pertumbuhan ekonomi atau kalem-kalem saja dicicipi politikus rakus yang memanfaatkan kondisi tanpa solidaritas kelas ini setiap lima tahun. Keadaan ini tercipta karena rakyat pekerja dikondisikan untuk tidak lagi merasa dirinya sebagai manusia yang bebas dan aktif dalam fungis-fungsinya kecuali fungsi hewani yang minimal untuk tetap bisa bekerja sebagai pekerja-upahan: makan, minum, beranak-pinak, tempat tinggal, berpakaian, dan sebagainya[13]. Kemanusiaannya diinjak ke derajat mesin; sekadar alat untuk menumpuk keuntungan bagi sang kapitalis. Sekolah-sekolah mengajarkan ‘kebenaran’ ini sehingga para calon-calon pekerja upahan mengganggap wajar semua ini: wajar bila pekerja menuruti perintah kapitalis; wajar bila upahnya cukup hanya untuk bertahan hidup sebagai ‘keluarga mesin’; wajar bila hanya harus mempelajari pelajaran-pelajaran teknis; wajar bila kapitalis memperoleh keuntungan seperti sekarang; wajar bila nanti anak saya pun pekerja; wajar bila …, wajar bila….
Sunyi menggelembung dalam gelap. Terbayang, gerimis bukan lagi nuansa romantis bagi pekerja-pekerja yang berdiri menunggu bis karyawan di tengah malam dingin. Sabarlah, anak-anakmu harus makan dan minum seadanya. Kesabaran kalian akan dibalas Tuhan Mahapengasih yang akan memberimu surga atas ikhtiarmu bertahan hidup. Jagalah hati, jangan kau nodai.
Dari kamar sebelah terdengar bebunyian hingar-bingar dari acara musik atau sinetron di televisi diselingi iklan-iklan produk. Keindahan itu seolah menyerukan:
Wahai kaum pekerja Paris menyerahlah!
Mei 2006
Karta Markijan
Perhimpunan Muda
[1] Tulisan ini hampir seluruhnya mengambil inspirasi dan mengadaptasi beberapa karya Karl Marx yang sepertinya sesuai dengan apa yang sedang terjadi di Indonesia saat ini. Memperingati Hari Buruh 1 Mei dan penderitaan yang harus ditanggung kaum miskin di negeri ini yang tujuh turunan akan selalu miskin sampai orang-orang bangun dari mimpinya tentang dunia yang indah-damai.
[2] Karl Marx (2006) Brumaire XVII Louis Bonaparte (terjemahan Oey Hay Djoen). Jakarta: Hasta Mitra. hlm. 15.
[3] Ibid. hlm. 15.
[4] Ibid. hlm.15
[5] Ibid. hlm. 136.
[6] Ibid. hlm 24.
[7] Karl Marx (1844/2004) Naskah-naskah Ekonomi Filsafat 1844 (terjemahan Ira Iramanto). Jakarta: Hasta Mitra, hlm. 18.
[8] Karl Marx dan Frederick Engels (1845-6/1988) The German Ideology. New York: Macmillan, hlm. 101.
[9] Karl Marx (1844: 19) Naskah-naskah Ekonomi dan Filsafat.
[10] Karl Marx (2006) Brumaire XVII Louis Bonaparte, hlm. 128.
[11] Ibid. hlm. 128.
[12] Ibid.
[13] Naskah-naskah, 75.



