Latest Entries »

Hanya pencurianlah yang masih bisa menyelamatkan kepemilikan pribadi.

(Karl Marx, Brumaire XVIII Louis Bonaparte)

I

Hegel pernah bilang bahwa semua peristiwa dan tokoh-tokoh penting dalam sejarah muncul seolah-olah dua kali. Tapi Hegel lupa menambahkan: yang pertama kali sebagai sebuah tragedi dan yang keduanya sebagai lelucon[2]. Memang manusia membuat sejarahnya sendiri, tetapi mereka tidak membuatnya tepat seperti yang mereka sukai; mereka tidak membuatnya dalam situasi-situasi yang dipilih oleh mereka sendiri, melainkan dalam situasi yang langsung dihadapi, ditentukan, dan ditransmisikan dari masa lalu[3]. Tradisi dari generasi ke generasi yang sudah lewat menjadi satu-satunya beban yang sulit untuk disingkirkan dari pundak. Ketika kita terlibat dalam upaya perubahan; dalam menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya, justru pada saat ‘revolusioner’ itu kita dengan cemas membangkitkan arwah-arwah masa lalu untuk melayani kita dan meminjam nama-nama, teriakan-teriakan, dan busana-busana untuk mementaskan cerita lama dalam sejarah yang diselubungi pelaku dan bahasa pinjaman yang tampak baru[4].  Revolusi di Perancis ini ternyata cuma pentas cerita lama dengan latar baru. Revolusi tinggallah revolusi. Sekarang arwah-arwah gentayangan dari masa lalu mewujud dalam Louis Bonaparte; presiden dari kalangan prajurit yang didampingi wakil dari golongan kapitalis negeri ini. Kemarin, berbondong-bondong pekerja dari penjuru negeri Perancis menuju ibukota memprotes undang-undang perburuhan baru yang sedang diperbaiki. Tapi jalan-jalan yang mereka lalui adalah jalan-jalan lama yang diciptakan borjuis Paris. Serikat-serikat pekerja sepertinya tiada lain penjelmaan tangan-tangan negara borjuis. Sebagian besar inteletual juga demikian. Seperti dibilang Marx ‘…kekuatan tatanan borjuis terletak pada kelas menengah[5].’ Para ahli dari universitas yang memperbaiki undang-undang pun merupakan anak kandung negara borjuis yang dididik oleh lembaga pendidikan borjuis pula. Bagi intelektual tradisional ini ‘kepentingan umum’ adalah satu-satunya pertimbangan. Tak ada kosa kata membela kaum pekerja miskin dalam kamus pertimbangan mereka. Kosa kata itu sudah dibuang jauh-jauh sejak kuliah semester pertama. Seorang dari mereka berdiri dan mengajari soal kebijaksanaan.

II

Demonstrasi di Hari Buruh harus dihardik sebagai omong kosong utopi; utopi kaum kuminis. Bukankah kalian sudah memilih wakil-wakil di DPR? Mereka yang bijaksana dari universitas ternama sedang merevisi pasal-pasal dalam undang-undang perburuhan yang akan menyejahterakan rakyat. Bukankah masuk akal bila kesejahtaraan rakyat, termasuk kaum pekerja, harus ditanggung negara dan bukannya oleh perusahaan? Bukankah undang-undang dasar kita juga menyiratkan itu? Apa salahnya dengan pasal 35 undang-undang perburuhan? Tugas kapitalis adalah menanamkan kapitalnya di negeri ini agar pertumbuhan ekonomi nasional naik. Lihatlah pengangguran bertebaran di mana-mana. Kita butuh lapangan kerja. Sudah untung mereka mau menanamkan kapitalnya di negeri kita. Seharusnya negara kita memberikan keleluasaan para pejuang ekonomi bangsa ini untuk membangun ekonomi kita yang ambruk karena krisis. Sediakan infrastruktur yang baik. Mudahkan hutang-hutang mereka. Jangan lupa kita musti mendidik penduduk negeri dengan pelajaran-pelajaran yang praktis saja untuk kepentingan di dunia kerja. Sekarang, apa yang terjadi? Orang-orang sok pahlawan itu mengorganisasi pekerja dan berdemonstrasi menentang undang-undang! Apa yang kurang dari apa yang telah dilakukan kaum pengusaha yang sudah berbaik budi membuat pabrik di sini? Bukankah dengan upah yang sekarang hidup pekerja bisa dilanjutkan? Mereka bisa makan, menyewa rumah untuk tinggal, dan menyekolahkan anak mereka sampai lulus sekolah menengah? Untuk apa juga sih minta tunjangan-tunjangan segala macam itu? Itu bukan kewajiban pengusaha. Itu kewajiban negara sesuai undang-undang dasar. Atau kalau mau jujur sebenarnya itu kewajiban pekerja sendiri yang kalau bisa ngirit tentu bisa menabung untuk tunjangan kesehatan dan sebagainya itu. Jangan sekali-kali meminta yang bukan haknya. Dholim itu namanya!

III

Aku tak habis pikir. Bijaksanawan dari universitas itu begitu bijaksananya. Dia sepertinya tidak pernah sekali pun seumur hidup tinggal dan merasakan bau apek kasur kaum pekerja. Atau berbincang dengan mantan pekerja pabrik berusia tua yang sakit paru-paru dan sedang tergeletak lemah di kamar pengapnya ditunggui oleh anak laki-laki terakhirnya yang berkaki kecil sebelah serta bermata rabun karena dikandung ketika ibunya kurang gizi. Memang tepat analisis Karl Marx, pengungsi dari Köln itu, bahwa monarki borjuis dari Louis Philippe hanya dapat disusul oleh sebuah republik borjuis, yang berarti bila satu bagian terbatas dari borjuasi memerintah atas nama raja, maka seluruh borjuasi sekarang akan memerintah atas nama rakyat. Apa yang mereka lakukan begitu penuh pembenaran: “Kami dipilih rakyat seluruhnya”. Tuntutan-tuntutan pekerja Paris adalah omong kosong utopi yang mesti diakhiri[6]. Kepentingan umum untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional lebih berharga daripada memperhatikan kesejahteraan kaum pekerja. Usahakan upah pekerja tetap tidak tinggi tapi jangan pula terlalu rendah sehingga selain bisa membuat pekerja beserta keluarganya bisa tetap hidup tapi juga tidak memberatkan kapitalis untuk menumpuk hasil rampokan yang oleh akhli ekonomi disebut keuntungan. Antrian panjang kaum miskin penjual diri sendiri untuk menjadi pekerja yang mau dibayar murah masih akan lama bertahan. Tenang saja. Kalau yang satu protes, usahakan agar secara konstitusional sah untuk dipecat dan akan dengan mudah kita mencari penggantinya.

Tuan Marx, pelarian dari Prusia itu, pernah bilang bahwa memang upah pekerja ditentukan melalui perjuangan saling bertentangan antara kapitalis dan pekerja. Kemenangan pasti ada di sisi kapitalis. Kapitalis bisa lebih lama bertahan hidup tanpa pekerja, tapi pekerja tidak bisa bertahan hidup lama tanpa kapitalis. Pekerja dibuat tergantung pada kapitalis. Tingkat upah paling rendah dan mutlak perlu adalah yang memenuhi kehidupan pekerja selama masa kerjanya saja. Selebihnya cuma sebanyak yang diperlukan untuk mendukung keluarga pekerja dan agar golongan pekerja tidak mati. Itu saja. Kapitalis akan berupaya membuat keuntungannya terus meningkat hingga jumlah nol dari depositonya tak terbayangkan oleh kaum pekerja.

Asosiasi-asosiasi kaum kapitalis adalah suatu kebiasaan dan efektif mengendalikan negara borjuis siapapun presidennya, untuk mendukung kepentingan mereka tentu saja. Sedangkan asosiasi kaum pekerja dilarang atau disulap jadi kelompok arisan yang tunduk pada kepentingan kaum kapitalis[7]. Kesadaran mereka diprogram sedemikian rupa sehingga menganggap kehidupan ini wajar adanya. Semua yang mereka tanggung adalah sesuatu yang sudah sewajarnya mereka terima. Kaum borjuis tidak hanya menguasai alat-alat produksi material. Mereka juga mengendalikan kesadaran masyarakat lewat alat-alat produksi mental. Tuan Marx, orang buangan dari Berlin itu, pernah juga bilang seperti itu bahwa gagasan-gagasan kelas penguasa di sepanjang kisah sejarah manusia merupakan gagasan penguasaan. Kelas yang menguasai kekuatan material dalam masyarakat, pada saat yang sama menguasai kekuatan intelektualnya juga. Kelas yang menguasai alat-alat produksi material pada akhirnya juga mengendalikan alat produksi mental, sehingga gagasan dari mereka yang tidak menguasai alat produksi mental tunduk padanya. Gagasan-gagasan yang berkuasa tiada lain adalah ekspresi ideal dari hubungan material yang dominan; hubungan material dominan yang dipahami sebagai gagasan; ketika hubungan yang membuat suatu kelas menjadi kelas penguasa atas yang lain, maka gagasannya merupakan gagasan dominansi[8]. Inilah dominasi ideologi kelas berkuasa. Koran-koran, acara televisi, radio, film, sekolah, dan universitas merupakan perkakas-perkakas reproduksi kesadaran tempat terjadinya upaya penyeragaman gagasan yang sejalan dengan gagasan kelas borjuis yang membuat masyarakat melihat dunia seperti kaum borjuis melihatnya. Semua yang dianggap wajar oleh borjuis menjadi wajar bagi sebagian besar orang. Upah rendah yang wajar menurut borjuis harus wajar juga menurut pekerja. Masyarakat sipil tiada lain adalah masyarakat dominasi borjuasi. Di dunia akademik, para intelektual sekadar balatentara yang dimanfaatkan seefektif mungkin menyebarkan dan melindungi gagasan dominan borjuasi. Mereka tidak memakai baju perang dan pedang selayaknya para ksatria Normandi melindungi Tuan-tuan Feodal, tetapi menggunakan teori dan konsep-konsep. Mitos-mitos disebarluaskan hingga mencapai derajat ‘fakta’. Benarkah bila kapitalis untung, maka pekerja akan merasakannya juga? Tuan Marx dari Prussia pernah mencatatkan analisisnya bahwa pekerja tidak mesti mendapat untung bila si kapitalis mendapatkannya, tetapi mereka sudah pasti rugi bila kapitalis merugi[9]. Sungguh polos pikirannya orang yang meyakini ada sayap di punggung para kapitalis. Borjuis bukan malaikat. Pemerintahan monarki borjuis telah 32 tahun mempercayai teori ini yang oleh akhli ekonomi disebut teori tetesan ke bawah. Omong kosong. Ujung dari penerapan teori ini adalah kesenjangan ekonomi yang menganga seperti jurang dan siap menelan setiap orang-orang kalah ke dasarnya yang hina.

IV

Tradisi sejarah telah melahirkan kepercayaan kaum miskin Perancis pada mukjizat seorang laki-laki bernama Napoleon yang dianggap akan mengembalikan semua kejayaan pada mereka. Muncullah di tengah-tengah kekalangkabutan suasana krisis berkepanjangan seorang laki-laki gagah yang mengaku sebagai orang pilihan itu karena ia menyandang nama Napoleon[10]. Dalam pemilu yang lalu pria ini terpilih sebagai presiden bersama wakilnya yang adalah pemimpin partai paling berkuasa pada masa kekuasaan monarki borjuis yang telah lalu sekaligus seorang kapitalis besar dari Perancis timur. Apa yang terjadi bila wakil golongan prajurit dan borjuis kapitalis bersatu-padu di tampuk kepresidenan Perancis ini? Apa yang terjadi jika senapan bersanding dengan uang di dalam satu tangan? Tampaknya ini akan dicatat sebagai suatu kekeliruan dalam buku sejarah masa depan dan dibaca dengan rasa miris oleh pemuda-pemudi masa depan yang semoga lebih peduli pada penderitaan kaum lemah.

Selain itu, kaum miskin, termasuk golongan pekerja bersama ‘serikat-serikat pekerjanya’ persis seperti, mengutip istilah Tuan Marx, orang usiran dari Köln itu, “kentang dalam sebuah karung (yang) merupakan sekarung kentang”[11]. Seandainya berjuta-juta orang ini hidup dalam keadaan yang memisahkan gaya hidup mereka dari kelas-kelas lain dan menempatkan mereka dalam oposisi dengan kelas-kelas tersebut, maka mereka itu merupakan sebuah kelas. Tapi sayang tidak. Oleh karenanya mereka tidak dapat menyatakan kepentingan-kepentingan kelas atas nama mereka sendiri baik lewat parlemen maupun lewat konvensi[12]. Yang bisa mereka lakukan hanyalah mencicipi secuil demi secuil remah-remah pertumbuhan ekonomi atau kalem-kalem saja dicicipi politikus rakus yang memanfaatkan kondisi tanpa solidaritas kelas ini setiap lima tahun. Keadaan ini tercipta karena rakyat pekerja dikondisikan untuk tidak lagi merasa dirinya sebagai manusia yang bebas dan aktif dalam fungis-fungsinya kecuali fungsi hewani yang minimal untuk tetap bisa bekerja sebagai pekerja-upahan: makan, minum, beranak-pinak, tempat tinggal, berpakaian, dan sebagainya[13]. Kemanusiaannya diinjak ke derajat mesin; sekadar alat untuk menumpuk keuntungan bagi sang kapitalis. Sekolah-sekolah mengajarkan ‘kebenaran’ ini sehingga para calon-calon pekerja upahan mengganggap wajar semua ini: wajar bila pekerja menuruti perintah kapitalis; wajar bila upahnya cukup hanya untuk bertahan hidup sebagai ‘keluarga mesin’; wajar bila hanya harus mempelajari pelajaran-pelajaran teknis; wajar bila kapitalis memperoleh keuntungan seperti sekarang; wajar bila nanti anak saya pun pekerja; wajar bila …, wajar bila….

Sunyi menggelembung dalam gelap. Terbayang, gerimis bukan lagi nuansa romantis bagi pekerja-pekerja yang berdiri menunggu bis karyawan di tengah malam dingin. Sabarlah, anak-anakmu harus makan dan minum seadanya. Kesabaran kalian akan dibalas Tuhan Mahapengasih yang akan memberimu surga atas ikhtiarmu bertahan hidup. Jagalah hati, jangan kau nodai.

Dari kamar sebelah terdengar bebunyian hingar-bingar dari acara musik atau sinetron di televisi diselingi iklan-iklan produk. Keindahan itu seolah menyerukan:

Wahai kaum pekerja Paris menyerahlah!

Mei 2006

Karta Markijan

Perhimpunan Muda


[1] Tulisan ini hampir seluruhnya mengambil inspirasi dan mengadaptasi beberapa karya Karl Marx yang sepertinya sesuai dengan apa yang sedang terjadi di Indonesia saat ini. Memperingati Hari Buruh 1 Mei dan penderitaan yang harus ditanggung kaum miskin di negeri ini yang tujuh turunan akan selalu miskin sampai orang-orang bangun dari mimpinya tentang dunia yang indah-damai.

[2] Karl Marx (2006) Brumaire XVII Louis Bonaparte (terjemahan Oey Hay Djoen). Jakarta: Hasta Mitra. hlm. 15.

[3] Ibid. hlm. 15.

[4] Ibid. hlm.15

[5] Ibid. hlm. 136.

[6] Ibid. hlm 24.

[7] Karl Marx (1844/2004) Naskah-naskah Ekonomi Filsafat 1844 (terjemahan Ira Iramanto). Jakarta: Hasta Mitra, hlm. 18.

[8] Karl Marx dan Frederick Engels (1845-6/1988) The German Ideology. New York: Macmillan, hlm. 101.

[9] Karl Marx (1844: 19) Naskah-naskah Ekonomi dan Filsafat.

[10] Karl Marx (2006) Brumaire XVII Louis Bonaparte, hlm. 128.

[11] Ibid. hlm. 128.

[12] Ibid.

[13] Naskah-naskah, 75.

Oleh Abdulkarim al-Syuyu’i (Perhimpunan Muda)


Bagi saya, kegagalan rejim di negeri bekas Uni Soviet bukanlah kegagalan Marxisme, tapi kegagalan totalitarianisme. Karena alasan inilah saya masih merasa bahwa diri saya setengah Marxis, setengah Budhis”

(His Holiness the Dalai Lama)[1]

I
Apa yang maksud Dalai Lama dengan menyebut diriNya ‘setengah Marxis, setengah Budhis’? Apakah Dia hendak tunjukkan bahwa Budhisme dan Marxisme sejalan? Orang yang oleh penganut Tantrayana Tibet diakui sebagai perwujudan Bodhisatwa Kasih ini tentu tidak sedang bersenda gurau. Kalau pun sedang bersenda gurau, tentu ada alasan mendasar yang membuatNya melakukan sejenis senda gurau yang serius ini.

Dalam suatu wawancara dengan majalah Dialogue and Universalism tahun 1997, Dalai Lama pernah menyatakan bahwa menurutNya, yang menarik dari teori ekonomi Marx adalah bahwa teori itu menekankan betul-betul bagaimana membagi kekayaan, bukan hanya bagaimana menghasilkannya. Pembagian yang setara, inilah yang menurut Dalai Lama dianggap sebagai kekuatan mendasar dalam teori ekonomi Marx. Bila dalam kapitalisme persoalan mendasarnya hanyalah bagaimana menghasilkan kekayaan demi kekayaan itu sendiri dan terus-menerus bersiasat untuk memperoleh laba melulu demi kemaslahatan segelintir kapitalis, maka dalam ekonomi Marx banyak persoalan moral kemanusiaan yang diangkat dalam kaitannya dengan menghasilkan dan menyebarkan kekayaan tersebut demi kemaslahatan umat manusia.

Bagi mereka yang mengenal langsung teks-teks ajaran pokok Budha Gautama dan pemikiran Karl Marx, pernyataan Dalai Lama di atas bukan senda gurau. Budhisme dan Marxisme tidak hanya punya banyak kesamaan, tapi juga keduanya sungguh-sungguh saling melengkapi satu sama lain. Memang, dalam beberapa hal keduanya berbeda. Misalnya mengenai doktrin kelahiran kembali yang begitu pokok dalam Budhisme tapi tidak digubris dalam Marxisme. Tapi, keduanya sama-sama tidak menerima teori tentang adanya jiwa substansial. Kedua-dua, sebenarnya menolak metafisika; atau paling tidak tak peduli urusan metafisika.

Suatu hari Budha Gautama ditanya seorang Rsi tentang Tuhan atau kekuatan Ilahiah yang mencipta dunia beserta isinya. Budha menjawab pertanyaan ngetes itu dengan menuturkan sebuah kisah. Kira-kira seperti ini kisahnya: ada seseorang yang tertembak panah beracun di dadanya. Racun panah begitu cepat menjalar ke jantung dan dalam waktu singkat dia bisa mati. Dalam keadaan seperti itu tidak ada faedahnya mengetahui siapa yang melepaskan panah, berapa tinggi dan seberapa kokoh tangan orang itu. Tidak ada manfaatnya juga mengetahui dari jenis kayu apa panah itu dibuat dan dengan kecepatan berapa anak panah melesat menembus dadanya. Hal yang musti dilakukan adalah mencabut anak panah dari dada dan mengobati lukanya.

Orang yang terpanah mengumpamakan kehidupan manusia di dunia yang menderita (dukkha). Kehidupan itu sendiri begitu singkat. Racun menjalar terus melalui nadi kehidupan dan bisa merenggutnya. Sama sekali tak ada maslahatnya menghabiskan waktu hidup yang singkat dengan mempersoalkan sesuatu yang ‘gaib’, sesuatu yang metafisikal. Yang nyata-nyata nyata adalah penderitaan manusia nyata yang berdarah dan berdaging. Tidak peduli apakah racun itu merupakan suratan tangan Tuhan atau bukan, yang jelas racun harus dihentikan dan penderitaan harus diakhiri.

Perumpaan ini merupakan sindiran keras terhadap golongan orang yang kerjanya mengotak-atik sesuatu di luar kehidupan nyata untuk menjelaskan persoalan nyata yang dihadapi manusia. Bagi Budha tak soal apakah semburan lumpur Lapindo itu takdir Tuhan atau bukan; Budha tak peduli apakah Tsunami itu azab, ujian, atau cobaan dari Tuhan Yang Mahakuasa. Yang nyata-nyata nyata adalah manusia menderita yang kehilangan tempat tinggal, sanak saudara, dan pencaharian. Budha tak persoalkan apakah gempa itu kutukan atau balasan Tuhan atas kelakuan manusia. Yang menjadi persoalan adalah ada manusia yang benar-benar menderita dan perlu ditolong.

Bagi kita yang tinggal di Indonesia, tentu sudah sering mendengar penjelasan-penjelasan metafisikal atas kejadian di dunia nyata. Saya sendiri pernah mendengar bahwa gempa bumi yang memporak-porandakan Yogyakarta merupakan azab buat mereka yang musyrik. Mengapa wilayah Bantul yang paling parah tertimpa gempa? Kata kawan saya yang muslim, karena penduduk Bantul banyak menjalankan praktik kemusyrikan (menyembah Nyi Roro Kidul, misalnya). Menurut kawan saya itu, semua bencana merupakan azab bagi pendosa dan ujian bagi yang beriman. Karena penjelasannya metafisikal, maka penyelesaiannya pun metafisikal. Misalnya dengan anjuran banyak beribadah, berdoa kepada Tuhan agar dilindungi, atau menyuruh Inul berhenti goyang. Sementara itu pemahaman tentang gempa dan musti bagaimana menghadapi derita yang diakibatkannya diabaikan begitu saja karena dianggap bukan persoalan pokok.

Perumpaan yang diajukan Budha Gautama untuk menjawab pertanyaan tentang Tuhan di atas mengingatkan saya pada Ulasan-ulasan tentang Feuerbach dan beberapa tulisan Marx dalam Naskah-naskah Ekonomi dan Filsafat 1844. Dalam ulasan kritiknya terhadap Ludwig Feuerbach (dan rekan Hegelian muda lainnya), Marx menyindir keterjebakan Hegelian Muda pada lumpur metafisika. Ketika Feuerbach mengkritik filsafat Idealis Hegel, dia sendiri terjebak dalam lumpur yang sama. Bagi Marx, baik Hegel maupun Feuerbach sama-sama terjebak dalam pemahaman bahwa penderitaan di dunia nyata merupakan turunan belaka dari dunia metafisik. Bila Hegel menunjuk Roh Dunia, maka Feuerbach merujuk ‘materi’. Keduanya sama-sama membicarakan yang abstrak-abstrak, sesuatu yang menurut Marx bukanlah persoalan pokok penderitaan manusia.

Kepada rekan-rekan Hegelian muda, Marx juga mengkritik tajam pemikiran mereka yang hendak menyelesaikan masalah dalam kehidupan sosial dengan mengotak-atik tatanan atas (agama dan negara). Bagi Marx, konsep dan praktik agama (dan negara) hanyalah pantulan tak langsung dari kenyataan sosial sehingga kritik terhadap agama bukanlah yang pokok dan harus dilanjutkan dengan kritik tatanan sosial tempat agama tersebut tumbuh berkembang. Seperti yang diulas Marx dalam Ideologi Jerman, ciri pokok yang membedakan manusia dengan binatang lainnya bukanlah akal, kepercayaan, atau bisa bermain sepak bola, tapi bahwa manusia harus menghasilkan sendiri segala pemenuhan kebutuhan hidup mendasarnya. Oleh karena itu, dalam kehidupan sosial, tatanan yang melaluinya manusia memproduksi kebutuhan mendasar dan menyebarkannya merupakan hal yang mendasar. Di atasnyalah tatanan politik dan pemikiran berdiri. Agama hanyalah pantulan dari jeritan manusia menderita di dalam tatanan sosial yang sakit, yaitu tatanan yang memilah orang ke dalam lapisan-lapisan sosial sehingga mereka yang berada di lapisan atas bisa menghisap daya mereka yang berada di lapisan bawah. Daripada menyasar agama dan negara, lebih berfaedah menyasar kenyataan sosial dibaliknya, yaitu tatanan ekonomi (produksi, distribusi, konsumsi) yang sakit.

Bagi Budha maupun Marx, menyasar persoalan metafisik adalah kerjaan buang-buang waktu. Persoalannya ada ‘di sini’; di dunia nyata ini. Tuhan itu ada atau tidak, tak perlu diperdebatkan. Entah surga itu ada atau tidak, yang jelas penderitaan itu nyata menimpa manusia yang berdarah dan berdaging; penghisapan manusia atas manusia yang lain jelas terpampang di muka kita setiap hari dari masa ke masa.

II

Keprihatinan Budha Gautama dan Karl Marx sama, yaitu penderitaan manusia nyata di kehidupan ini (dukkha). Namun keduanya berprihatin pada sisi yang berbeda. Budha mengabdikan seluruh hidupnya demi memahami ‘sisi dalam’ dari penderitaan manusia dan mencari penyelesaian di sisi dalam tersebut. Sedangkan Marx mencurahkan daya hidup untuk memahami ‘sisi luar’ penderitaan yang meradang dalam kehidupan sosial dan menelusuri kemungkinan-kemungkinan penyelesaiannya.

Konsep pokok dalam Budhisme adalah samsara atau perulangan kehidupan terus-menerus selama karma buruk melekat dalam kehidupan. Karma atau kelekatan hubungan sebab-akibat atas semua tindakan adalah yang menjadikan lingkaran samsara terus berjalan. Samsara terus berputar sampai tiada lagi karma dan kehidupan mencapai pembebasan sempurna yang disebut sunyata (kekosongan) atau nirvana (ketiadaan).

Materialisme historis, yaitu kerangka penjelasan materialis atas sejarah manusia yang menuntun Marx menemukan akar penderitaan manusia boleh dibilang adalah pisau yang membedah samsara sejarah. Perulangan praktik penindasan dan penghisapan manusia atas manusia bukanlah kutukan Dewa atau azab Tuhan. Semua itu adalah akibat tindakan-tindakan manusia secara kolektif yang terus- menerus diulang (karma sosial). Kemiskinan dan ketimpangan sosial bukanlah azab Ilahi, tapi hasil tak terelakkan dari tatanan masyarakat yang timpang. Selama karma sosial atau reproduksi kondisi produksi yang terus-menerus menghasilkan masyarakat yang sakit, maka selama itu pula penderitaan manusia akan tetap bercokol. Oleh karena itu, pembebasan sejati manusia dari penderitaan adalah dengan melenyapkan tatanan yang memilah-milah masyarakat ke dalam lapisan-lapisan yang berkedudukan atas-bawah (kelas sosial). Itulah komunisme, suatu tatanan sosial yang di dalamnya tiada pertentangan; tiada keterpilahan manusia berdasarkan kedudukan tinggi-rendah (nirvana sosial).

Kini kita bisa menebak maksud Dalai Lama ketika bilang bahwa dirinya ‘setengah Marxis, setengah Budhis’. Kedua-duanya saling melengkapi berprihatin pada persoalan yang sama. Budhisme menyediakan orientasi ke dalam dan Marxisme memberi orientasi ke luar. Budhisme yang melulu menyasar ‘sisi dalam’ penderitaan akan terjebak dalam kehampaan sosial dan manusia asing dari lingkungan sosial tempatnya berada. Begitu pula dengan Marxisme. Tanpa perhatian pada sisi dalam manusia, perjuangan Marxisme membebaskan manusia dari penderitaan bisa berujung pada perulangan penderitaan itu sendiri. Seperti dengan tepat dikemukakan Dalai Lama ketika berkomentar tentang Revolusi Bolsheviks bahwa “Menurut saya, Marxis, paling tidak dalam teori, berprihatin terhadap orang-orang tertindas, orang-orang kelas pekerja. Tapi dalam praktik mereka hanya menghabiskan semua daya untuk menghancurkan kelas penguasa. Ketika penghancuran sudah dicapai, bagi seorang Marxis tak ada yang perlu diperhatikan lagi tentang penghargaan kepada orang-orang dalam kelas pekerja. Karena kurangnya Kasih sejati, daya mereka menjadi lebih untuk menghancurkan ketimbang membangun”.[2]

Ajaran-ajaran mendasar Karl Marx selama ini tertutup debu marxisme ortodoks dan fundamentalisme Stalinis yang mau menjadikan pemikiran Marx sebongkah fisika. Hal ini telah lama menipu bahkan setelah rejim Uni Soviet yang menganutnya sebagai ideologi runtuh berantakan. Yang terkelabui bukan hanya mereka yang sepenuh hati mempelajari pemikirannya karena keprihatinan yang sama, tapi juga mereka yang membenci pemikiran (dan pribadi) Marx.

Sumber filosofis yang paling mendasar bagi filsafat Marx adalah penderitaan manusia. Marxisme adalah filsafat penderitaan. Akarnya tertanam di tanah filsafat Feuerbach. Dalam Ludwig Feuerbach dan Akhir Filsafat Jerman, Frederick Engels tak jemu-jemu mengulang penyataan bahwa Feuerbach jauh lebih miskin daripada Hegel. Dalam pengantar bukunya Perang Petani, Feuerbach mengatakan bahwa, “kalau sekiranya sebelum itu tidak ada filsafat penderitaan, yang menentukan filsafat Hegel, niscaya tidak akan pernah ada peletakan dasar bagi sosialisme ilmiah buat selamanya”.[3]

Dalam kapitalisme, menurut R. Gerardy, mantan anggota PKP yang dipecat karena anti-stalin, ketika semua hal, termasuk di dalamnya tenaga kerja, menjadi komoditi, maka muncullah penyelewengan yang di situ tidak terdapat tujuan-tujuan kemanusiaan.[4] Marx sendiri, setelah beres membaca karya Darwin, pernah menulis surat kepada Engels bahwa sistem ekonomi pasar kapitalisme “belum beranjak dari bentuk perekonomian binatang”.[5] Jadi, tujuan Marxisme bukan sekadar menghapuskan perbedaan kelas sosial, tapi terutama memulihkan masyarakat yang sakit sehingga menjadi manusia kembali sebagai manusia.

Kepemilikan pribadi atas kekuatan-kekuatan produktif menyebabkan adanya ketergantungan manusia sehingga memunculkan tatanan yang di dalamnya jati diri manusia dimiliki pula oleh manusia lainnya. Dalam Naskah-naskah Ekonomi dan Filsafat, Marx menyatakan bahwa komunisme yang merupakan penghapusan kepemilikan pribadi adalah penguasaan kembali manusia secara penuh, secara sadar dan tanpa menyisakan sesuatu pun dari kekayaan yang menjadi miliknya sebagai mahluk sosial. Komunisme adalah keadaan ketika manusia memiliki kembali kemanusiaannya. Itulah tujuan Marxisme.

Akhirnya boleh dikatakan bahwa Karl Marx, mengutip Kevin M. Brien, adalah sejenis bodhisatwa yang hendak melepaskan manusia dari jerat penderitaannya.[6]  Namun, karena keprihatinan Marx tertuju pada sisi sosial kehidupan manusia, maka Marx adalah bodhisatwa duniawi.

Wallahu’alam bishshawab…

Catatan
[1]   His Holiness the Dalai Lama (1996) Beyond Dogma: Dialogue and Discourse. Berkeley: North Atlantic Books, h. 110.
[2]   His Holiness the Dalai Lama, “An Interview” dengan Andrew N. Woznicki, dalam Dialogue and Universalism 7, no. 11-12 (1997): 16.
[3] Dikutip R. Geraurdy (1992) Fundamentalisme Islam dan Fundamentalis Lainnya. Bandung: PUstaka, h.17.
[4]  Ibidiem.
[5]  Ibidiem, h.18.

[6] K.M. Brien (2006) Marx, Reason and the Art of Freedom. New York: Humanity Books, 252.

I

Minggu-minggu lalu kita belajar beberapa ajaran filsafat yang sifatnya personal dan eksistensial karena berkaitan dengan persoalan-persoalan hidup keseharian yang dialami individu. Minggu ini kita akan coba memasuki satu bidang filsafat paling purba dalam rekaman sejarah filsafat, yaitu metafisika. Metafisika atau upaya pencarian dasar-dasar realitas yang tampak secara rasional ini dikenal dan digeluti oleh semua peradaban besar. Penting atau tidaknya bidang filsafat ini bergantung pada kita sendiri. Kitalah yang memberi nilai pada segala sesuatu; seperti Adam yang dianugrahi kemampuan memberi nama oleh Tuhan.

Sejak kecil saya diajarkan bahwa pendidikan itu penting, karena tanpanya kita akan menjadi korban kebodohan dan pendapat-pendapat yang salah. Lewat pendidikan, saya akan bisa mengambil keputusan bijaksana dan mampu membedakan antara yang benar dan yang salah. Rasio harus diasah untuk menjadi panduan untuk menilai dan bertindak. Ribuan sekolah didirikan untuk meningkatkan kepandaian orang. Ratusan olimpiade sains diselenggarakan untuk mewadahi siswa-siswa pandai yang bertanding tuk meraih prestasi. Jutaan rupiah diberikan kepada siswa-siswa berprestasi ini. Nilai ijazah yang tinggi sebagai lambang dari kepandaian merupakan salah satu syarat bila ingin bekerja di perusahaan bonafid. Kita hidup di dunia yang begitu menghargai rasio. Kisah sukses teknologi dan ilmu pengetahuan adalah kisah sukses rasio dan rasionalitas. Di jantung semua itu, bila kita tidak ingin disamakan dengan binatang, maka kita harus menggunakan rasio kita melebihi perasaan. Manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan yang dianugrahi akal. Akal menjadi pemandu utama kehidupan untuk meraih predikat ‘khalifah di muka bumi’.

Saya juga diajarkan oleh orang-orang bertaqwa bahwa segala sesuatu pasti ada hikmahnya karena semuanya dirancang oleh Yang Maha Bijaksana. Bila saya tidak menemukan hikmah dari suatu kengerian yang terjadi di sekitar hidup saya saat ini, pasti itu karena jiwa saya belum bijaksana. Sebab, bagaimana pun, semua yang Tuhan ciptakan pasti baik dan selalu mempunyai ‘kabar baik’. Bila ada yang ‘tidak beres’ di dunia ini, maka itu bukan berarti Tuhan salah, tetapi sayalah yang belum mampu menilai secara bijaksana. Saya selalu diingatkan oleh teman saya yang religius bahwa kita hanyalah mahluk lemah yang tidak mungkin melampaui kebijaksanaan-Nya. Dunia adalah tempat terbaik yang mungkin ada.       Karena kebodohan saya yang alang-kepalang; yang belum mampu mengambil hikmah, seringkali godaan setan mewujud dalam rupa ‘pikiran yang melayang ke berbagai kisah miris yang dialami manusia dan kehidupan pada umumnya’. Saya tidak habis pikir mengapa mahluk rasional ciptaan Tuhan Yang Mahabijaksana inilah yang justru bisa bertindak irasional dalam segala kekejamannya. Rangkaian kisah kekejaman dan penderitaan dari sejak adanya rekaman arkeologik tentang senjata ribuan tahun lalu hingga hari kemarin dengan perang, pemerkosaan, penindasan, pembantaian etnik, dan penghancuran-penghancuran sebagai lambang-lambangnya, terjadi justru karena manusia adalah mahluk rasional. Saya yang bodoh ini sama sekali tidak habis pikir bahwa Jerman yang dikenal mempunyai tradisi rasional yang ketat mempunyai lembaran pembantaian jutaan manusia dalam sejarahnya. Manusia pula yang menjalankan perbudakan dan eksploitasi atas manusia-manusia lemah yang terpaksa dibayar murah karena butuh sekadar untuk hidup dan melanjutkan keturunan. Dengan upah tak seberapa, gerombolan orang miskin mengantri di gerbang pabrik-pabrik menjual tenaganya. Dan ketika tubuhnya tidak lagi menghasilkan tenaga yang produktif, maka mereka pun dibuang layaknya plastik kresek yang tak terpakai lagi. Manusia pula yang begitu teganya bilang bahwa buruh itu wajar saja diupah rendah karena mereka tidak berpendidikan. Sudah untung mereka dapat pekerjaan di jaman sulit ini, katanya. Riba mungkin hanya dipraktekkan di dunia manusia. Begitu juga perbudakan (di Arab Saudi kontemporer judulnya menjadi ‘kisah sedih TKW’). Lalu, sebenarnya mahluk macam apa manusia itu? Tuhan apa pula yang menciptakan manusia yang konon adalah bayangan-Nya dan dunia tempat manusia hidup yang, menurut saya yang bodoh ini, begitu kejam? Benarkah dunia ini diciptakan Tuhan Yang Mahabijaksana? Benarkah dunia adalah tempat terbaik yang mungkin ada?

Pertanyaan-pertanyaan di atas mau tidak mau membawa kita pada penggalian ke jantung realitas: Apa sebenarnya yang menjadi dasar segalanya? Apa yang menjadi inti terdalam dari realitas? Bila dasar realitas itu sesuatu yang baik, mengapa ada penderitaan di dunia ini? Para filsuf, nabi, budha, atau avatar agung dari banyak peradaban besar menyediakan banyak sekali jawaban, meski jarang yang berbentuk resep-resep siap pakai. Tetapi, tidak semua jawaban bernada positif. Ada yang berpendapat bahwa dasar segala sesuatu bukanlah Tuhan Yang Mahabijaksana atau Rasio Semesta. Realitas tidak digerakkan oleh sesuatu yang rasional. Lahir dan hidup di jaman yang mengagungkan rasio dan rasionalitas membuat saya agak heran bahwa ada segelintir orang Eropa yang pernah menawarkan teori metafisika anti-rasio. Orang itu bernama Arthur Schopenhauer (1788-1860), seorang filsuf Jerman yang tidak terkenal di Indonesia dan fans berat Immanuel Kant (1724-1804). Berangkat dari kenyataan bahwa banyak sekali penderitaan di dunia ini, baik yang dialami individu-individu maupun yang menimpa manusia sebagai spesies, Schopenhauer sampai pada kesimpulan bahwa kisah dunia yang selama ini disandarkan pada Tuhan atau Rasio Bertujuan (seperti teori Rohnya Hegel) ternyata didalangi oleh kekuatan irasional dan tanpa tujuan pula, yaitu Kehendak-Irasional. Jantung realitas yang di situ kehidupan berserta persoalannya memperoleh suplai keberwujudannya dari ‘Sang Kehendak’ yang tak diketahui. Yang jelas Kehendak merupakan dunia noumenal yang melampaui ruang-waktu. Karena di luar kerangka ruang dan waktu, Kehendak itu tidak mungkin diketahui oleh manusia yang terperangkap dalam ruang-waktu. Selain itu, Kehendak itu sendiri bukanlah suatu pribadi layaknya Tuhan dalam agama-agama Semitik. Karena bila Kehendak itu dianggap sebagai pribadi, maka kita mengasumsikan ia terbatas oleh ruang-waktu, karena prasayarat ‘kepribadian’ adalah melekatnya dimensi ruang dan waktu sebagai pembatas identitas yang membedakannya dengan identitas lain. Karena bukan sesuatu yang berada dalam ruang-waktu, Sang Kehendak bukanlah sebab segala sesuatu karena yang mewaktu tidak mungkin disebabkan oleh yang tak mewaktu. Kehendak pun tidak mempunyai tujuan pada dirinya sendiri selain pengekalan kehendak itu sendiri. Kalau bukan Sebab Dasar, lalu apa? Ya, apa ya? Susah juga menjelaskannya. Tapi Pak Arthur bilang bahwa segala sesuatu adalah perwujudan Sang Kehendak. Pada dasarnya dunia fenomenal atau dunia yang di situ ruang-waktu menjadi kerangka pengenalan dan dunia noumenal yang tak diketahui itu merupakan satu kesatuan. Keduanya hanya berbeda dalam kedudukannya di dalam kemampuan manusia menangkapnya. Pada hakekatnya keduanya merupakan satu kesatuan tunggal. Dalam metafisika, teori tentang ini disebut dengan teori aspek ganda.

Schopenhauer sependapat dengan Immanuel Kant bahwa jangkauan pengetahuan kita hanya sampai pada sesuatu yang tampak ke hadapan kita saja (dunia fenomena). Sedangkan realitas pada dirinya sendiri (das Ding an sich) tetap menjadi sesuatu yang tak dikenal. Apa yang secara langsung kita ketahui bukanlah ‘sesuatu’ itu sendiri, tetapi (hanya) gagasan mengenai ‘sesuatu’ tersebut; bukan pohon tetapi gagasan kita tentang pohon, bukan matahari tapi gagasan tentang sang surya. Semuanya itu memang ada sebagai yang hadir menampakkan diri pada kita; mereka hadir sebagai gagasan. Dipikir-pikir memang seperti suatu hil yang mustahal kalau saya sebagai manusia biasa bisa mengetahui sesuatu dari segala sisinya dalam waktu bersamaan. Yang bisa saya tahu cuma bagian dari sesuatu yang menampakkan diri pada saya. Keutuhan sesuatu hanya ada dalam bayangan saya saja. Bagi Schopenhauer, dunia yang kita lihat dan alami atau dunia fenomenal, adalah ‘dunia sebagai gagasan’ (atau sering pula sebagai disebut dengan ‘dunia sebagai bayang-bayang’). Bayang-bayang dari apa? Bersebrangan dengan Kant yang membiarkan das Ding an sich sebagai sesuatu yang pada dirinya sendiri tidak diketahui, maka Schopenhauer berkesimpulan bahwa dunia penampakan (fenomenal) digerakkan, dipengaruhi, dikendalikan, dan diarahkan oleh ‘keinginan-keinginan’. Dunia fenomenal adalah bayangan dari Kehendak. Jadi, hakikat dunia atau dasar segala sesuatu bukanlah sesuatu yang rasional yang mempunyai ‘program’ tertentu (rasio, logos, Idea, Roh Absolut, atau Subjek transendental), melainkan sesuatu yang bersifat tidak rasional. Dan sesuatu di dunia fenomenal yang seolah-olah tampak terprogram (takdir, perjalanan Roh Semesta), hanyalah akal-akalannya akal manusia saja yang risih dengan dunia yang tak bertujuan. Sungguh aneh. Benar-benar aneh. Schopenhauer adalah anak kandung Pencerahan Eropa. Pencerahan berarti kepercayaan pada rasio. Mungkin benar yang dibilang Nietzsche bahwa peradaban Eropa yang menumpukan dirinya pada rasio akhirnya akan digerogoti sendiri dari dalam: Eropa sedang membunuh tuhan-tuhan mereka sendiri, dan Schopenhauer hanya permulaan. Di saat semua filsuf percaya bahwa Rasionalitas merupakan dasar segala sesuatu, dia malah ‘menemukan’ bahwa Irasionalitaslah yang sebenarnya mendasari segala sesuatu. Dalam beberapa aspek teman saya yang posmo berhutang pada gerogotan Schopenhauer.

Persetan dengan semua teori metafisika! Apa ngaruhnya buatku kalo dasar realitas itu rasio atau Kehendak? Toh hidupku begini-begini saja! Tiba-tiba temanku yang skeptik itu berseru dengan nada A mayor. Tenang, tenang sebentar. Kita cuma belajar. Nggak ada salahnya ikuti dulu cerita tentang kehendak ini. Lagi pula kita tidak sedang belajar filsafat analisis yang hanya mempersoalkan konsep dan teori. Kita belajar realitas. Itu sebenarnya tugas filsafat: memperjelas pemahaman kita tentang segala sesuatu.

Schopenhauer menyarankan, coba perhatikan kehidupan kita sehari-hari. Coba selidiki diri sendiri dan sekitaran. Perjalanan hidup tiada lain adalah rangkaian tak putus-putus dari siklus ‘keingingan-meraihnya-kecewa-senang-lalu ingin lagi’. Semua kehendak berawal dari kebutuhan atau kekurangan akan sesuatu. Kepuasan akan mengakhirinya; tetapi setelah setiap keinginan terpuaskan akan ada keinginan-keinginan lain yang minta terpuaskan. Semua kepuasan bersifat sementara saja. Setiap keinginan yang terpuaskan akan digantikan oleh keinginan lain. Kehendak tidak akan pernah puas. Jadi, menurut Schopenhauer, selama kesadaran kita dipenuhi Kehendak; selama kita mengikuti dorongan keinginan dengan harapan dan kekecewaan yang mengikutinya; selama kita menjadi subjek kehendak, maka tidak akan ada kebahagiaan. Kebahagiaan tidak lain adalah istirahat yang cukup dari desakan keinginan-keinginan. Mencapai keinginan atau menghindari bahaya tidak berbeda sama sekali. Keduanya merupakan sebentuk keresahan kehendak yang ingin mewujudkan dirinya.

Kenikmatan, atau dalam istilah Schopenhauer adalah kepuasan yang dirasakan saat keinginan terpenuhi, tiada lain adalah kesenangan-negatif. Artinya kenikmatan itu tiada lain dan tiada bukan adalah istirahatnya kesengsaraan. Kesenangan, kenikmatan, kebahagiaan, tidaklah ada pada dirinya sendiri sebagai substansi. Ia hanyalah cerminan dari tidak hadirnya kesengsaraan. Sebentar, sebentar. Lalu apa yang membuat kita, manusia, masuk ke dalam putaran roda keinginan itu? Kata Schopenhauer ialah hidup kita sendiri. Hiduplah yang membuat kita senantiasa ingin terus-menerus. Inti kehidupan yang membuat keinginan selalu berubah-ubah adalah Kehendak. Hidup tiada lain adalah perwujudan kehendak-untuk-hidup. Ternyata keberadaan saya di dunia atau asal-usul ontologik saya tidaklah seperti anggapan Heidegger yang berhenti pada ‘ujug-ujug’. Bukan pula kewujudan ini diciptakan oleh Tuhan yang Mahabijaksana. Kewujudan saya dengan segala keinginannya ternyata hanyalah secuil bagian dari perwujudan Kehendak Irasional.

II

Dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang kita menyatakan bahwa ini penting atau itu penting dan selebihnya tidak penting atau kurang penting. Seolah-olah segala sesuatu yang kita beri nilai itu memang bernilai pada dirinya sendiri. Dan kepercayaan pada substansi nilai-nilai yang melekat pada semua yang berhubungan dengan kita tersebut membawa kita pada banyak kekecewaan. Kekecewaan ini bukan pula bagian dari hakikat sesuatu itu, tetapi hasil dari gerak tak bertujuan dari Kehendak yang selalu berubah. Kehendak yang mewujud dalam kesadaran kitalah yang ‘kecewa’. Seperti kita yang sama sekali tidak sadar bahwa bumi itu bergerak, begitu pula pula sebagian besar dari kita tidak sadar bahwa Kehendak-lah yang menggerakkan segala sesuatu. Kita, tepatnya rasio kita, menggambarkan seolah-olah sejarah semesta dan sejarah manusia merupakan gerak yang berpola dan mempunyai tujuan. Gagasan ini berpuncak pada filsafat Hegel yang mempercayai bahwa gerak sejarah tiada lain adalah gerak Roh Absolut yang mewujudkan diri. Roh Rasional ini bertujuan mencapai kesadaran dirinya dengan mengembangkan keterbukaan rasio. Emansipasi pendidikan, agama individual (protestanisme), ekonomi rasional (kapitalisme), dan politik demokratik, merupakan perwujudan kesadaran Roh Absolut yang mencapai ‘pencerahannya’. Sejarah pasti adalah sejarah rasional seperti diktum Hegel bahwa “Segala yang real adalah rasional; dan segala yang rasional adalah real”.

Pantas saja Schopenhauer yang dikenal sombong itu begitu membenci Hegel. Keduanya sampai pada penemuan yang berseberangan. Tapi, karena manusia lebih suka ‘mendengar’ bahwa sejarah kita atau hidup kita mempunyai tujuan, dan tujuan itu mencapai sesuatu yang lebih baik, maka kuliah Schopenhauer yang waktunya disamakan dengan jam kuliah Hegel, sama sekali sepi pengunjung.

Schopenhauer benar-benar tidak mengajarkan determinisme. Kehendak buta yang menggerakkan segala yang ada itu tidaklah punya tujuan apapun selain mewujudkan dirinya sendiri. Perwujudan Kehendak yang paling sengsara adalah kita, manusia. Mengapa? Karena kitalah satu-satunya yang punya kesadaran. Kitalah yang punya potensi untuk menyadari bahwa segala sesuatu itu berasal dari kehendak belaka. Pengalaman penderitaan kita tidak hanya dirasakan, tapi juga bisa dipikirkan. Tetapi, menurut Schopenhauer yang jelas-jelas mengikuti jejak Sang Budha, perwujudan yang paling bisa bahagia adalah kita juga dengan syarat bahwa kesadaran kita mampu memahami kenyataan dasar dan menghindari sebisa mungkin desakan-desakan Sang Kehendak.

III

Sekarang ini, mau tidak mau kita lahir dan hidup dalam masyarakat tempat sistem kapitalisme merupakan satu-satunya tatanan yang ‘rasional dan benar’. Segala yang dilakukannya (harus) tampak rasional. Bukankah meraih laba dan mengumpulkannya untuk memperluas kapital yang bisa digunakan untuk meraih laba kembali merupakan sesuatu yang tidak hanya wajar tapi juga ‘rasional’? Bukankah upah buruh dibiarkan tetap lebih rendah dari penghargaan kita pada peningkatan mesin itu tindakan ‘rasional’ untuk meningkatkan laba? Bukankah undang-undang perburuhan yang menyuburkan sistem kerja kontrak dan membatasi buruh untuk memperoleh tunjangan-tunjangan dan menghindari beberapa jenis pajak itu rasional untuk meningkatkan keuntungan perusahaan? Bukankah mempekerjakan perempuan yang dalam undang-undang selalu dipandang sebagai ‘single’ sehingga tidak perlu mendapat tunjangan dan akhirnya mengurangi biaya produksi merupakan pilihan rasional? Cukup. Cukup sudah! Kalau kita jejerkan berbagai pertanyaan dalam otakmu yang sok marxis itu, mungkin diskusi ini tidak akan pernah selesai! Ya, ya baiklah aku berhenti bertanya. Tapi tolong bicarakan juga ini.

Perwujudan Kehendak-buta dalam ‘sejarah’ manusia yang paling jelas adalah sistem ekonomi kapitalis. Sistem ini sepertinya mengendalikan segala seluk beluk kehidupan kita. Bahkan dalam lembaga yang menghubungkan individu dengan ‘Tuhan’nya sekali pun. Norma yang hampir universal yang dibawa oleh perwujudan ini erat berkaitan dengan ‘kehendak untuk akumulasi kapital’, perluasan kuasa ekonomi (dan politik), dan eksploitasi atau penaklukan alam serta manusia. Mengejar laba sebesar-besarnya dan perluasan terus-menerul kapital adalah nilai yang utama. Globalisasi dianggap sebagai takdir dan merupakan hasil perkembangan tak-terelakkan dari sejarah manusia. Tindakan-tindakan ‘yang benar’ haruslah berkaitan dengan norma dan nilai yang dibawa ‘Sang Perwujudan’. Kita baru dianggap rasional bila membenarkan nilai dan norma tersebut. Padahal, dalam kacamata Schopenhauer, penggerak utama dari pencarian sebesar-besarnya keuntungan dan mengakumulasinya ini tiada lain dan tiada bukan adalah Kehendak buta yang selalu tidak pernah puas. Tidak ada rasio dalam perang pendudukan demi minyak di Timur Tengah. Tiada pula ada takdir Tuhan dalam penindasan dan eksploitasi kaum pekerja di seluruh dunia. Tapi, meski demikian manusia selalu saja mencari-cari pembenaran atas segala yang terjadi. Entah dalam bentuk logika memberantas terorisme atau ‘mengamankan’ bangsa dan negara dari anasir-anasir subversif. Para ‘pemberontak’ di pedalaman Papua diangap penggangu keamanan nasional; buruh-buruh yang menuntut kenaikan upah dianggap orang tak tahu diri.

Itulah gambaran dunia kita. Dunia rasional yang berakar dalam kekuatan Irasional: Kehendak untuk akumulasi kapital. Lalu apa yang harus kita lakukan? Entahlah, saya sendiri bukan dokter peradaban yang punya resep-resep siap pakai untuk siapa pun di mana pun. Sayang sekali memang. Tetapi kalo boleh usul kita mesti melakukan perlawanan. Bukan secara langsung kepada Kehendak buta sebagai dasar metafisik realitas kejam ini. Mungkin kita bisa melakukan perlawanan kepada rasionalisasi kenyataan. Akuilah bahwa (tidak) semua yang ada sebagai sesuatu yang rasional. Jangan pula meyakini seratus persen bahwa semua ada hikmahnya. Ada banyak fenomena yang tidak ada hikmahnya. Tidak perlu takut dianggap sebagai murid Machiavelli atau Nietzsche. Jangan pula gentar dianggap kafir karena mengikuti Buddha dalam beberapa hal. Kenapa menggabungkan Machiavelli, Nietzsche, dan Sang Budha dalam satu kamar? Bukannya mereka berbeda? Memang. Memang mereka berbeda dalam jalan keluar, tetapi mereka menemukan ‘sebab’ yang sama: realitas tidak berakar dari Rasio, Keteraturan, Tuhan dan sejenisnya itu; realitas hanyalah pantulan dari Kehendak Irasional yang sama sekali tak punya tujuan. Tidak ada ujung sejarah yang lebih baik dari saat ini. Sejarah tiada lain adalah pertarungan antara yang menindas dan yang tertindas. Kebenaran tiada lain adalah kebenaran mereka yang menindas. Memang kita tidak perlu sejalan dengan Arhat yang menyingkir dari dunia nyata ke kesunyian sebagai jalan satu-satunya bebas dari penderitaan. Kita harus seperti Bodhisatva yang terjun ke dunia untuk ‘membebaskan’ manusia dari jerat Maya; Maya yang mengelabui kita dengan pandangan palsu bahwa realitas begitu indahnya, begitu damainya, begitu benarnya. Kini, Maya yang harus kita hadapi itu bernama Kapitalisme dan Demokrasi Liberal yang oleh Fukuyama dianggap sebagai akhir dari penemuan manusia. Tidak! Sejarah belum berakhir. Kapitalisme dan Demokrasi Liberal bukanlah satu-satunya sistem terbaik yang pernah dicipta manusia!

Sudah, sudahlah. Sepertinya kamu ngelantur tak jelas ke sana ke mari. Tafsir macam apa yang dengan sok tahu mengait-ngaitkan Schopenhauer dengan Karl Marx? Yang menghubung-hubungkan Dunia sebagai Kehendak dan Kapitalisme? Sudahlah jangan sok tahu begitu. Tidak ada risalah metafisika yang ditulis seburuk ini. Ya, mungkin tulisan ini seperti lanturan. Atau mungkin bukan mungkin, tapi memang benar-benar lanturan saja. Jadi, tulisan ini tidak usah ditanggap serius. Yang harus dihadapi serius adalah nyatanya penderitaan banyak sekali orang di kolong langit biru ini yang hidup dalam penghisapan sistem irasional bernama kapitalisme.

Malam sudah masuk. Kali ini sepertinya Dewi Imajinasi tidak mewahyukan cerita-cerita penutup seperti yang sering Dia lakukan minggu-minggu lalu. Yang ada di sudut meja tulis pun cuma selembar potongan koran berisi berita revisi undang-undang perburuhan.

Zorosastro Wardoyo

Silabus

Garis Besar Pembelajaran

Pokok bahasan 1: Pengantar Ke Pemikiran Ekonomi dan Filsafat Marx

Tidak ada pemikiran manusia yang muncul dari ruang kosong. Hanya Allah SWT yang mampu melalukan itu. Setiap pemikiran manusia tiada lain adalah tanggapan atas kondisi objektif-material di sekitarnya. Bagian ini akan membahas Revolusi Inggris dan Revolusi Perancis (1789-1848) serta pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat Eropa, terutama Jerman, tempat Marx hidup dan bersekolah.

Topik Diskusi

  1. bagaimana latar belakang sosial-politik Eropa, terutama Inggris, Perancis, dan Jerman pada akhir abad ke-18 dan permulaan abad ke-19?
  2. bagaimana pengaruh latar belakang tersebut terhadap pemikiran Marx dan Engels?

Bacaan: -

Pokok bahasan 2: Filsafat Sosial Hegel dan Gerakan Hegelian Muda

Ketika Marx sekolah filsafat, filsafat Hegel merupakan pemikiran dominan di universitas-universitas Jerman. Karena filsafat Hegel merupakan bacaan wajib, maka para intelektual membacanya untuk memperoleh pahala. Tetapi, pembacaan sebagian profesor atas filsafat Hegel menghasilkan tafsiran radikal yang berseberangan dengan tafsir populer di kalangan akademik. Profesor-profesor penyimpang ini dinamakan Kaum Hegelian Muda. Mereka meracuni mahasiswanya dengan gagasan mereka. Salah seorang yang teracuni itu adalah Karl Marx. Bagian ini akan membahas secara singkat pemikiran utama Hegelian Muda, terutama filsafat Ludwig Feuerbach tentang sejarah.

Topik Diskusi

  1. apa yang dimaksud dengan gerak dialektika sejarah?
  2. apa yang dimaksud Hegel dengan ‘sejarah adalah aktualisasi Kesadaran’?
  3. apa yang dimaksud Hegel dengan ‘segala yang aktual itu rasional, dan yang rasional itu aktual’ dalam pemahaman Hegelian Muda?

Bacaan:

Hegel, GWF Filsafat Sejarah. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.

Marcuse, H. Rasio dan Revolusi. Jogjakarta: Pustaka Pelajar

Pokok bahasan 3: Pemikiran-pemikiran Filsafat Marx Muda

Ketika pemerintah Prusia memperketat sensor penerbitan, Marx kabur ke Paris menghindari kejaran polisi rahasia Prusia. Dia berkenalan dengan kaum radikal dan sosialis Perancis, terutama Proudhon. Dia juga berkenalan dengan F. Engels yang kemudian menjadi kawan sehidupnya. Marx berubah dari seorang liberal radikal menjadi sosialis. Pemikiran-pemikirannya mulai berubah ketika Engels menghasutnya belajar ekonomi-politik, sebuah ilmu yang sedang trendy di Inggris. Saat itulah karya-karya penting yang kemudian dikenal sebagai karya “Marx Muda” dilahirkan. Marx telah berubah. Dia membedakan diri dari Hegelian Muda dan mengkritik mereka pada titik pijak gerakan filosofisnya.

Topik Diskusi:

  1. apa perbedaan mendasar pemikiran filsafat Marx dengan Kaum Hegelian Muda lainnya?
  2. faktor-faktor apa yang mempengaruhi perbedaan tersebut?
  3. apa yang dimaksud Marx dengan praxis dan apa gagasannya tentang hubungan theoria dan praxis?

Bacaan

Marx, K. Toward a Critique of Hegel’s Philosophy of Right (1843) [Kritik Filsafat Hegel tentang Hukum]

Marx, K. Theses on Feuerbach (1845) [Tentang Feuerbach]

Marx, K. Excerpt Notebook

Pokok bahasan 4: Materialisme Historis 1 (Ideologi Jerman)

Pendekatan dalam analisis Marx yang paling terkenal dan sering disalahpahami adalah “konsepsi materialis atas sejarah”-nya. Materialisme historis merupakan temuan terbesar Marx dan Engels untuk ilmu-ilmu sosial. Berbeda dengan binatang yang hanya mengambil dari alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia harus menciptakan sendiri makanannya; manusia harus bekerja dan memproduksi makanannya karena alam tidak memberinya sesuai dengan kebutuhan. Manusia, melalui kerja, menciptakan ‘alam’-nya sendiri. Jadi, aspek terpenting dalam analisis sosial Marxis adalah menelusuri kekuatan-kekuatan produksi dan hubungan-hubungan sosial dalam produksi dalam masyarakat.

Topik Diskusi:

  1. apa yang membedakan manusia dengan hewan lainnya?
  2. mengapa manusia harus melakukan kerja?
  3. apa yang dimaksud Marx dengan konsepsi materialis atas sejarah?

Bacaan:

Marx, K. dan F. Engels Ideologi Jerman, “Ideologi pada umumnya, Khususnya Filsafat Jerman”,

Marx, K. dan F. Engels The German Ideologi, “Premises of The Materialist Conception of History”

Pokok bahasan 5: Moda Produksi dan Formasi Ekonomi Pra-Kapitalis

Ketika tekanan untuk memproduksi kebutuhan muncul dalam evolusi manusia, maka mulailah manusia mendefinisikan kekuatan-kekuatan produksi (bahan mentah dan alat-alat untuk memproduksi) serta menata hubungan-hubungan sosial produksi yang diperlukan untuk mengorganisasi kerja. Inilah yang disebut moda produksi atau seperangkat hubungan sosial yang melaluinya kegiatan produksi diorganisasi untuk menggali energi dari alam dengan perkakas kerja, keterampilan, organisasi, dan pengetahuan.

Topik diskusi:

  1. apa yang dimaksud dengan moda produksi dan apa saja aspek-aspeknya?
  2. bagaimana perubahan moda produksi bisa terjadi?

Bacaan:

Marx, K. Pre-Capitalist Economic Formations (1857)

Marx, K. dan F. Engels The German Ideologi, “Premises of The Materialist Conception of History”

Pokok bahasan 6: Teori Kelas

Teori Kelas Marx merupakan salah satu teori terpenting dalam analisis sosial. Tapi, Marx sendiri tidak begitu jelas menguraikannya. Salah satu karya Marx yang membincangkan kelas dan landasan ekonominya adalah Brumaire XVIII Louis Bonaparte. Melalui analisis tentang struktur kelas masyarakat Perancis di masa-masa sekitar Revolusi (1789-1848), Marx mengajukan teorinya tentang kelas.

Topik Diskusi:

  1. apa yang dimaksud Marx dengan kelas?
  2. apa yang menjadi prasyarat sebuah kelas sosial?

Bacaan:

Marx, K. Brumaire XVIII Louis Bonaparte.

Pokok bahasan 7: Naskah-naskah Ekonomi Awal 1 (Manuskrip Paris)

Gagasan-gagasan Marx tentang ekonomi kapitalis sudah mulai muncul sebelum Das Kapital ditulis. Sumber-sumber utama perioda ini ada dalam kumpulan tulisan yang oleh penyuntingnya diberi judul Manuskrip Ekonomi dan Filsafat atau Naskah-naskah Paris karena ditulis ketika Marx berada di Paris.

Topik Diskusi:

  1. apa itu kerja (labour)?
  2. apa itu uang?

Bacaan:

Marx, K. Naskah-naskah Ekonomi dan Filsafat 1844, bagian “Kerja yang Teralienasi, “Uang dan Manusia yang Teralienasi”

Pokok bahasan 8: Naskah-naskah Ekonomi Awal 2 (Kemiskinan Filsafat)

Diskusi ekonomi Marx dengan Sosialis Perancis atau Ekonomi Politik Inggris menjadi semacam uji-pakai teori-teori ekonominya sendiri yang dituang dalam Das Kapital. Kemiskinan Filsafat merupakan salah satu karya Marx dalam fase ini.

Topik Diskusi:

  1. apa itu nilai?
  2. bagaimana nilai muncul?

Bacaan:

Engels, F. Kemiskinan Filsafat, bagian Prakata

Marx, K. Kemiskinan Filsafat, bagian “ Proporsionalitas Nilai”

Pokok bahasan 9: Sistem Produksi Kapitalis (Komoditi dan Uang)

Karl Marx menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk menganalisis moda produksi kapitalis. Dalam analisis Marx, moda kapitalis muncul ketika kekayaan berupa uang bisa digunakan untuk membeli tenaga kerja. Kemampuan ini tidaklah melekat secara inheren pada kekayaan tersebut, tetapi berkembang secara historik dan membutuhkan prasyarat tertentu. Tenaga kerja pada dirinya sendiri bukanlah komoditas yang diciptakan dalam upaya untuk ditawarkan di pasar. Tenaga kerja adalah atribut umat manusia, sebuah kemampuan Homo sapiens. Sepanjang orang bisa melekatkan ‘tangannya’ pada alat-alat produksi (perkakas kerja, sumber daya, lahan) dan memanfaatkannya untuk menyuplai makanan—di bawah pengaturan sosial apapun—tidak ada alasan bagi mereka untuk menjual kemampuan kerja kepada orang lain. Ketika tenaga kerja dijual, ikatan antara produsen dan alat-alat produksi telah menjadi sarana produksi barang dagangan.

Topik diksusi:

  1. apa yang dimaksud dengan komoditi?
  2. mengapa uang diperlukan dalam sistem kapitalisme?

Bacaan:

Marx, K. Kapital buku pertama bagian pertama Bab I

Engels, F. Frederick Engels tentang Das Kapital bagian II Bab I

Pokok bahasan 10: Sistem Produksi Kapitalis (Kerja dan Tenaga Kerja)

Topik diskusi:

  1. apa yang dimaksud dengan kerja?
  2. apa perbedaan kerja dan tenaga kerja?

Bacaan:

Marx, K. Kapital Buku Pertama bagian ketiga Bab VII dan Bab VIII.

Engels, F. Kata Pengantar ‘Kerja-upahan dan Kapital’

Engels, F. Frederick Engels tentang Das Kapital bagian II Bab 3

Pokok bahasan 11: Sistem Produksi Kapitalis (Kapital)

Topik diskusi:

  1. apa yang dimaksud dengan kapital?
  2. apa fungsi kapital dalam sistem kapitalisme?

Bacaan:

Marx, K. Kapital buku pertama bagian kedua Bab IV, V, VI, bagian ketujuh Bab XXIV.

Engels, F. Frederick Engels tentang Das Kapital bagian II Bab 2

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.